
BZ SUMSEL – Lahat, 12 Mei 2026 — Perayaan Hari Ulang Tahun ke-157 Kabupaten Lahat menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan dan kebudayaan. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat, H. Niel Aldrin, S.E., M.AP., menegaskan bahwa pelestarian budaya tidak boleh hanya menjadi seremoni tahunan, melainkan harus menjadi bagian dari pembentukan karakter generasi muda sejak usia dini.
Hal tersebut terlihat dalam kegiatan lomba pakaian adat anak PAUD yang digelar di Hotel Santika Lahat, Senin (11/05/2026). Kegiatan ini tidak hanya menampilkan keindahan busana adat khas Lahat dan Sumatera Selatan, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak untuk mengenal identitas budaya daerahnya.
“Budaya bukan sekadar pakaian yang dikenakan saat acara tertentu. Budaya adalah identitas dan karakter yang harus ditanamkan sejak kecil,” ujar Niel Aldrin di hadapan para orang tua, guru, dan tamu undangan.
Yang menarik, para peserta usia 3 hingga 6 tahun tidak hanya tampil menggunakan pakaian adat, tetapi juga diajak memahami makna busana yang mereka kenakan melalui sesi tanya jawab sederhana bersama dewan juri. Banyak jawaban polos namun penuh makna yang menunjukkan bahwa anak-anak mulai mengenal akar budaya dan sejarah keluarganya.
Menurut Niel Aldrin, kegiatan ini merupakan bagian dari program jangka panjang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lahat tahun 2025–2030 bertajuk “Budaya Hidup, Generasi Kuat.”
Program tersebut meliputi:
– Integrasi muatan lokal budaya dalam pembelajaran PAUD hingga SD
– Pelatihan guru PAUD sebagai penggerak budaya lokal
– Festival Budaya Anak Usia Dini setiap tahun
– Kolaborasi bersama TP-PKK, tokoh adat, dan seniman lokal dalam menciptakan media pembelajaran budaya yang interaktif
“Kita ingin anak-anak tumbuh dengan mengenal jati dirinya. Jika sejak kecil mereka memahami budaya dan asal-usulnya, maka mereka akan memiliki karakter yang kuat menghadapi perkembangan zaman,” jelasnya.
Ketua TP-PKK Kabupaten Lahat, Ir. Sri Meliyana, juga menyampaikan dukungannya terhadap gerakan pelestarian budaya berbasis keluarga. Ia menilai peran orang tua sangat penting dalam mengenalkan nilai budaya kepada anak-anak sejak di rumah.
Penilaian lomba dilakukan oleh tim independen yang terdiri dari ahli budaya, guru senior PAUD, tokoh adat, serta jurnalis media lokal. Penilaian tidak hanya berfokus pada penampilan, tetapi juga pemahaman anak terhadap makna pakaian adat, keberanian tampil, hingga interaksi mereka dengan penonton.
Bagi Niel Aldrin, seluruh peserta adalah pemenang karena telah menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya daerah.
Menutup kegiatan tersebut, ia mengajak seluruh masyarakat untuk lebih aktif mengenalkan budaya kepada generasi muda.
“Jangan sampai budaya kita hilang karena kita sendiri malas mengajarkannya kepada anak-anak. Budaya harus hidup di rumah, di sekolah, dan di tengah masyarakat,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengumumkan rencana peluncuran program “Gerakan 1 Rumah 1 Cerita Rakyat” pada Juni 2026, sebagai upaya membiasakan keluarga di Kabupaten Lahat mengenalkan cerita rakyat lokal kepada anak-anak sejak dini.
